Aksi Nyata CGP - I Made Mudiartana - Budaya Positif

MENUMBUHKAN BUDAYA POSITIF MELALUI KESEPAKATAN KELAS BERBASIS MURID MERDEKA DI MASA NEW NORMAL PADA ANAK KELAS 5B SDN 12 PEMECUTAN

 

I Made Mudiartana

CGP Angkatan 1 Kota Denpasar

 

1.        Latar Belakang

Bertepatan dengan hari Jumat, 19 Nopember 2020, Pemerintah mengumumkan SKB 4 menteri berkaitan dengan kegiatan pembelajaran di semester genap tahun pelajaran 2020/2021. Dalam SKB tersebut disebutkan bahwa pemerintah daerah dan Kantor Wilayah Departeman Agama diberikan keleluasaan untuk menentukan sistem pembelajaran yang dilakukan di wilayahnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa kemungkinan besar pada semester genap yang dimulai bulan Januari 2021 akan dilaksanakan pembelajaran tatap muka. Ini menandakan sekolah harus bersiap dengan segala fasilitas untuk mendukung kegiatan pembelajaran tatap muka tersebut. Fasilitasi-fasilitas tersebut disiapkan untuk menunjang aktivitas siswa dan guru untuk memenuhi protokol kesehatan sehingga dapat meminimalisir penyebaran virus.

Selain itu guru juga harus menyiapkan berbagai hal untuk menyiapkan siswa agar dapat berkativitas sesuai protokol kesehatan gugus tugas covid-19. Salah satu hal yang dapat disiapkan adalah membuat kesepakatan kelas di masa new normal. Kesepakatan kelas ini dibuat dengan tetap memperhatikan konsep murid merdeka. Guru saat Penyusunan kesepakatan tersebut, guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Kesepakatan kelas yang berhasil dibuat diharapkan menjadi acuan siswa untuk bertindak selama kegiatan belajar tatap muka di era new normal. Kesepakatan kelas ini juga dapat berfungsi sebagai kontrol terhadap siswa agar dapat berperilaku sesuai protokol kesehatan. Oleh karena itu kesepakatan kelas menjadi sangat penting untuk menumbuhkan budaya positif di kelas.

 

2.        Deskripsi Aksi Nyata

Pada masa new normal, atas ijin pemerintah daerah dan orang tua, siswa akan belajar tatap muka di sekolah. Namun kondisinya sedikit berbeda dengan kondisi sebelum pandemi covid-19. Berbagai hal harus menjadi perhatian kita sebagai guru. Sekolah dan guru harus benar-benar siap akan segala hal yang berkaitan dengan penumbuhan rasa aman dan nyaman siswa selama belajar di sekolah. Sekolah menyiapkan berbagai fasilitas penunjang sedangkan guru juga harus memikirkan berbagai cara agar siswa dapat belajar dengan baik di kelas tanpa melupakan protokol kesehatan. Salah satu hal yang perlu dipikirkan adalah aturan kelas yang berdampak pada budaya positif anak di masa new normal. Aturan kelas yang dibuat tersebut tidak boleh melupakan esensi dari murid merdeka itu sendiri. Aturan kelas tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk kesepakatan kelas.

Kesepakatan kelas merupakan aturan yang dibuat bersama oleh siswa dan guru sebagai acuan dalam berperilaku di dalam kelas. Kesepakatan kelas ini merupakan aturan tambahan dari tata tertib yang sudah ada di sekolah. Kesepakatan kelas dibuat secara sadar oleh seluruh siswa tanpa ada sedikitpun paksaan dari guru ataupun pihak lain. Pada aksi nyata ini, kesepakatan kelas dibuat bersama siswa melalui google meet dengan tujuan guru bisa bertatap muka secara langsung dengan siswa sehingga dapat menumbuhkan kesan bahwa mereka berada dalam kelas sesungguhnya.

Pembuatan kesepakatan kelas diawali dengan mengundang anak-anak melalui WA grup “Paguyuban Orang Tua Siswa”. Pada kesempatan itu, guru menanyakan kepada siswa mengenai waktu yang akan digunakan untuk pertemuan di google meet. Setelah waktu disepakati, guru dan siswa bertemu di ruang meeting google meet. Disana guru menyampaikan informasi bahwa kegiatan yang dilakukan bertujuan untuk mempersiapkan diri menyambut pembelajaran tatap muka di semester genap nanti.

Di awal pembicaraan guru juga menyampaikan bahwa kesepakatan yang dibuat ini sedikit berbeda dengan kesepakatan kelas yang dibuat sebelumnya mengingat kondisi belajar tatap muka masih dalam situasi pandemi covid-19. Guru memberikan kesempatan pada setiap siswa untuk mengajukan usul tentang isi kesepakatan kelas yang akan dibuat. Para siswa sangat antusias memberikan pendapat masing-masing sehingga pertemuan google meet menjadi sedikit riuh. Seraya mendengarkan, guru juga mencatat hal-hal yang disampaikan oleh siswa. Diakhir pertemuan guru bersama siswa merangkum tentang kesepakatan kelas yang dibuat ke dalam poster yang dibuat menggunakan aplikasi canva. Poster tentang kesepakatan kelas ini disampaikan kembali dan diminta persetujuan dari seluruh siswa. Para siswa menyambut baik dan membaca secara bersama-sama kesepakatan yang telah dibuat dengan penuh semangat.

Kesepakatan kelas sudah selesai. Poster akan dicetak dan ditandatangani saat pembelajaran tatap muka dimulai. Diakhir kegiatan guru menjelaskan bahwa kesepakatn kelas ini bertujuan untuk menumbuhkan budaya positif di kelas saat kembali ke sekolah untuk belajar dengan sistem tatap muka. Selain itu, guru juga menjelaskan bahwa kesepakatan kelas ini diperlukan untuk membiasakan seluruh siswa belajar dan berperilaku sesuai protokol kesehatan yang dianjurkan oleh gugus tugas covid-19 sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan nyaman, aman, terkendali serta terhindar dari virus corona.

 

3.        Hasil dari Aksi Nyata

Hasil dari aksi nyata ini adalah berupa kesepakatan kelas yang akan diberlakukan saat pembelajaran tatap muka dimulai. Dari kesepakatan kelas yang dibuat, diharapkan dapat menumbuhkan budaya positif pada diri siswa. Budaya positif yang diharapkan tercapai adalah kebiasaan-kebiasaan baik yang tertuang dalam kesepakatan kelas tersebut.

 

4.        Pembelajaran yang Didapat

a)      Kegagalan

Dalam penyusunan kesepakatan kelas di masa new normal ini, kegagalan yang ditemui adalah tidak semua siswa dapat bergabung melalui google meet. Siswa tidak dapat bergabung karena berbagai alasan, mulai dari gadget dibawa orang tua dan tidak memiliki kuota internet.

b)     Keberhasilan

Keberhasilan dalam pelaksanaan aksi nyata ini adalah terwujudnya kesepakatan kelas yang berbasis murid merdeka. Dimana siswa diberikan ruang sebesar-besarnya untuk mengekspresikan dirinya, mengajukan usul dan pendapat yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan kesepakatan kelas. Keberhasilan lain adalah siswa merasa senang berdiskusi melalui google meet dan mulai berani mengungkapkan ide dan pendapatnya dalam ruang virtual yang disediakan.

 

5.        Rencana Perbaikan

Rencana perbaikan dari pelaksanaan aksi nyata ini adalah CGP akan merencanakan lebih matang pertemuan yang akan dilaksanakan melalui google meet. Dengan perencanaan yang matang tersebut diharapkan tidak ada lagi siswa yang tidak dapat mengikuti pertemuan virtual dengan alasan gadget dibawa oleh orang tua. Perencanaan tersebut dapat berupa menjadwalkan pertemuan di sore hari saat orang tua sudah pulang dari bekerja. Selain itu kesepakatan kelas yang dibuat juga di share di grup WA dengan tujuan siswa yang tidak sempat mengikuti pertemuan virtual melalui google meet juga mengetahui isi dari kesepakatan kelas yang dibuat.


6.        Dokumentasi Kegiatan

1)    Proses penyusunan kesepakatan kelas melalui google meet yang selalu menerapkan 5S (senyum, sapa, salam, santai, sukses)


2)   Publikasi kesepakatan kelas yang telah dibuat melalui google meet diakhir pertemuan



3)       Poster yang akan dipajang di kelas saat anak-anak belajar tatap muka di semester genap mendatang




Jika Sobat menyukai Artikel di blog ini, Silahkan masukan alamat email sobat pada kotak dibawah untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Sobat akan mendapat kiriman artikel terbaru dari Media Pendidik dan Pendidikan

Aksi Nyata CGP - I Made Mudiartana - Pendekatan Inkuiri Apresiatif

MEWUJUDKAN HUBUNGAN YANG HUMANIS (SENYUM-SAPA-SALAM) ANTARA GURU, SISWA DAN ORANG TUA DENGAN PENDEKATAN INKUIRI APRESIATIF

 

I Made Mudiartana

CGP Angkatan 1 Kota Denpasar

 

1.        Latar Belakang

Pendidikan merupakan roh sebuah negara. Pendidikan dan hasil dari sebuah pendidikan menjadi tolak ukur kemajuan sebuah negara.. Negara maju adalah negara yang menempatkan pendidikannya pada prioritas utama. Pendidikan memiliki kontribusi yang sangat besar dalam peningkatan kualitas bangsa. Pendidikan adalah sumber dari segala sumber kemajuan suatu bangsa, karena melalui pendidikan kualitas sumber daya manusia bangsa tersebut dapat ditingkatkan. Sumber daya manusia merupakan aset utama dalam membangun suatu bangsa, tidak terkecuali bagi bangsa Indonesia.

Untuk mengoptimalkan kontribusi pendidikan terhadap peningkatan kualitas bangsa Indonesia, semua pihak mempunyai kontribusi yang penting, apakah pengelola pendidikan itu sendiri, termasuk swasta, pemerintah, atau masyarakat pada umumnya. Pemerintah di sisi lain harus pula mempunyai komitmen kesungguhan untuk berpihak pada kemajuan pendidikan, demikian pula dengan masyarakat dalam hal ini orang tua siswa. Mereka harus menyadari akan pentingnya pendidikan bagi masa depan putra-putri bangsa yang tercinta ini. Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang sangat bernilai bagi peningkatan kualitas bangsa Indonesia.

Di masa pandemi, sistem pendidikan di Indonesia mengalami sedikit pergeseran. Mulai dengan diterbitkannya kurikulum seri pandemi oleh Kemdikbud sampai pada sistem belajar yang mengalami perubahan. Sistem belajar yang bertahun-tahun menjadi andalan guru mulai ditinggalkan karena alasan menjaga jarak fisik dan social distancing. Sistem belajar tata muka mulai mendapat porsi yang sangat sedikit dibandingkan sistem belajar online baik menggunakan aplikasi pembelajaran maupun ruang-ruang virtual lainnya. Namun, dimasa ini timbul kekhawatiran terhadap humanisme hubungan antara guru, siswa dan orang tua siswa. Hal ini sangat berdasar yakni karena adanya batas dan jarak antara guru, siswa dan orang tua siswa selama pandemi. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk mendorong peningkatan hubungan yang humanis antara guru dan orang tua siswa untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran jarak jauh. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mewujudkan hubungan yang humanis antara guru, siswa dan orang tua dengan pendekatan inkuiri apresiatif.

 

2.        Deskripsi Aksi Nyata

Inquiri Apresiatif (IA) adalah teori yang dikembangkan oleh David Cooperrider. IA merupakan pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan dengan menggunakan prinsip-prinsip psikologi positif dan penddikan positif. IA juga merupakan salah satu model manajemen perubahan kolaboratif yang membawa perbaikan dalam suatu sistem seperti komunitas, institusi atau lembaga pendidikan. IA memulai perubahan dari pertanyaan utama yang ditentukan bersama dan dijalankan dalam suasana yang positif dan apresiatif. Dengan demikian dalam melakukan perubahan positif di sekolah harus terbangun kolaborasi positif antar stakeholder sekolah. Kolaborasi ini akan berjalan baik jika terdapat hubungan yang humanis antar guru, siswa dan orang tua siswa di masa pandemi.

Pandemi yang melanda Indonesia beberapa bulan terakhir memaksa para pelaku pendidikan khususnya guru untuk melakukan perubahan sistem belajar. Sistem belajar yang semula menggunakan mode tatap muka menjadi mode online/daring. Dalam perjalananya, mode daring tidak dapat dilakukan 100% karena dalam beberapa hal mengharuskan siswa dan orang tua untuk datang ke sekolah untuk bertemu langsung dengan guru. Disini terlihat masih diperlukan perubahan dalam beberapa sisi, khususnya kesan guru ketika menerima siswa dan orang tua siswa di sekolah. Masih ada beberapa guru yang kurang menunjukkan sikap ramah dan profesional. Sepertinya ikatan antara guru dan siswa sudah mulai pudar karena pandemi ini. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan aksi nyata untuk mengadakan perubahan terhadap perilaku ini. Akasi nyata yang dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut menggunakan pandekatan inkuiri apresiatif dengan strategi BAGJA. Tahapan strategi BAGJA tersebut adalah sebagai berikut :

B

:

Buat Pertanyaan Utama. Pertanyaan utama ini sebagai penentu arah penelusuran dalam melakukan perubahan. Setiap pertanyaan utama akan mewakili proses tahapan BAGJA yang berbeda. Untuk itu perlu kesepakatan dalam memilih pertanyaan utama

A

:

Ambil Pelajaran. Tahapan ini dilakukan jika telah sepakat terhadap mengambil pertanyaan yang mana

G

:

Gali Mimpi bersama. Dalam tahapan ini komunitas akan menggali mimpi sesuai dengan harapan yang ingin dicapai

J

:

Jabarkan Rencana. Komunitas atau sekolah secara bersama-sama menjabarkan rencana untuk mencapai gambaran yang diimpikan. Pada tahap ini merupakan Langkah mengidentifikasi Tindakan yang diperlukan dan mengambil keputusan-keputusan

A

:

Atur Eksekusi. Bagian ini adalah bagian mentranspormasi rencana menjadi nyata. Sehingga diperlukan pertanyaan-pertanyaan yang memerukan kesepakatan

 

Tahapan dalam strategi BAGJA  tersebut disusun dengan mengajukan pertanyaan dan tindakan yang dapat dilakukan untuk menjawab pertanyaan. Untuk mewujudkan hubungan yang humanis (senyum, sapa, salam) antara guru, siswa dan orang tua untuk meningkatkan kolaborasi yang efektif di masa pandemi dapat dijabarkan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

Tahapan

Pertanyaan

Tindakan yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan

B-uat pertanyaan (Define)

Apa yang menjadi penyebab guru belum mampu menunjukkan hubungan humanis dengan siswa dan orang tua?

Melakukan observasi dan refleksi diri terhadap sikap yang sudah dilakukan selama menerima kedatangan siswa dan orang tua di masa pandemi

A-mbil pelajaran (Discover)

Bagaimana cara mengatasi merosotnya humanisme hubungan antara guru, siswa dan orang tua di masa pandemi?

§  Berdiskusi dengan kepala sekolah berkaitan dengan berkuranganya humanisme hubungan antara guru, siswa dan orang tua saat datang ke sekolah di masa pandemi

§  Melakukan refleksi diri terkait merosotnya nilai-nilai humanisme (senyum, sapa, salam) dalam menjalin hubungan dengan siswa dan orang tua siswa.

G-ali mimpi (Dream)

Apa yang menjadi harapan terhadap tindakan yang dilakukukan guru untuk memperbaiki humanisme hubungan dengan siswa dan orang tua?

Berdiskusi dan melakukan komunikasi aktif dengan beberapa teman sejawat terkait sikap dan harapan perubahan sikap yang ingin ditunjukkan. Perubahan sikap yang diharapkan adalah guru mampu menjalin hubungan dengan siswa dan orang tua dengan sikap yang humanis (senyum, sapa, salam)

J-abarkan rencana (Design)

Apa langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mewujudkan mimpi perubahan sikap menjadi lebih humanis tersebut?

Menyusun rencana kerja dan langkah-langkah yang dilakukan untuk mewujudkan hubungan yang humanis. Langkah-langkah tersebut adalah :

1)    Berdiskusi dengan Kepala Sekolah terhadap tindakan yang akan dilakukan

2)    Berkomunikasi efektif dengan beberapa teman sejawat

3)    Melakukan refleksi diri dengan mengajukan pertanyaan terhadap sikap yang sudah dilakukan

4)    Menumbuhkan sikap humanis dari dalam diri guru

5)    Membudayakan apresiasi terhadap setiap perubahan positif yang dilakukan oleh guru

A-tur eksekusi (Deliver)

Kapan tindakan yang mencerminkan perubahan sikap akan dilakukan?

Membuat jadwal kegiatan sesuai rencana yang sudah dilakukan. Tindakan yang mencerminkan perubah dilakukan pada minggu pertama bulan desember 2020

3.        Hasil dari Aksi Nyata

Kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh atau BDR yang sudah berlangsung kurang lebih 10 bulan memunculkan berbagai polemik di masyarakat. Polemik tersebut muncul tidak tanpa alasan. Berkurangnya intensitas guru bertatap muka dengan siswa, berkurangnya kolaborasi guru dengan orang tua, bahkan merosotnya humanisme guru saat bertemu dengan siswa dan orang tua ketika datang ke sekolah kini menjadi sorotan banyak pihak. Hal tersebut sangat beralasan dikarenakan intensitas pertemua guru dengan siswa dan orang tua semakin berkurang. Sehingga mungkin memunculkan perasaan yang tidak biasa dibenak guru, siswa dan orang tua.

Berkurangnya humanisme hubungan yang terjalin antara guru, orang tua dan siswa dapat dipatahkan dengan melakukan langkah-langkah reflektif seperti yang jelaskan pada bagian deskripsi aksi nyata di atas. Langkah-langkah dengan strategi BAGJA tersebut ternyata efektif untuk meningkatkan humanisme hubungan yang terjalin antara guru, siswa dan orang tua siswa. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya perubahan sikap dan perilaku guru dalam menerima kedatangan siswa dan orang tua di sekolah di masa pandemi ini. guru sudah menjukkan sikap humanis seperti menunjukkan senyum, menyapa dan menyampaikan salam saat siswa dan orang tua datang ke sekolah.

 

4.        Pembelajaran yang Didapat

a)      Kegagalan

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di masa pandemi ini merupakan tantangan bagi sebagian guru. Banyak sekali pengalaman dan pembelajaran yang didapatkan. Salah satu pembelajaran yang diperoleh selama melakukan aksi nyata kolaborasi bersama orang tua ini adalah bertemu dengan berbagai karakter. Sehingga dalam perjalananya, guru harus melakukan berbagai strategi dan upaya untuk menyelami dan mengenali karakter orang tua yang datang ke sekolah. Karakter orang tua yang memiliki kesadaran terhadap pentingnya pendidikan mungkin tidak menjadi masalah, namun bertemu dengan orang tua yang memiliki karakter keras dan kasar menjadi pelajaran tersendiri bagi guru.

b)     Keberhasilan

Bentuk keberhasilan dari aksi nyata “mewujudkan hubungan yang humanis antara guru, siswa dan orang tua siswa” sangat luar biasa. Guru-guru sudah mulai menunjukkan sikap yang humanis (senyum, sapa dan salam) tiap kali menerima kedatangan tamu, baik orang tua, siswa, mapun pihak lain yang datang ke sekolah.


5.        Rencana Perbaikan

Seperti yang diuraikan di atas, kolaborasi antara guru dan orang tua memiliki nilai yang sangat penting dalam peningkatan efektivitas pembelajaran selama PJJ. Namun karena adanya beberapa kendala dalam pelaksanaan aksi nyata ini, maka diperlukan rencana perbaikan. Rencana perbaikannya adalah selalu melakukan komunikasi efektif dengan orang tua yang memiliki karakter keras dan kasar. Bila perlu melakukan kunjungan berkala untuk melakukan pendekatan persuasif demi tercapainya tujuan pendidikan yang berkualitas.

 

6.        Dokumentasi Kegiatan

1)     Bertukaran pikiran dalam rapat sekolah bersama Kepala Sekolah dan teman sejawat terkait aksi nyata yang akan dilakukan



 

2)   Melakukan komunikasi efektif dengan beberapa teman sejawat demi perbaikan sikap untuk mewujudkan hubungan yang humanis dengan siswa dan orang tua



3)        Bentuk keberhasilan aksi nyata

Menyambut siswa dan orang tua dengan senyum, sapa, dan salam

 

Melayani segala bentuk permasalah siswa dan orang tua siswa dalam pelaksanaan pembelajaran daring


Jika Sobat menyukai Artikel di blog ini, Silahkan masukan alamat email sobat pada kotak dibawah untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Sobat akan mendapat kiriman artikel terbaru dari Media Pendidik dan Pendidikan

Aksi Nyata CGP - I Made Mudiartana - Nilai dan Peran Guru Penggerak

MEMBANGUN KOLABORASI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN DI MASA PANDEMI

PADA SISWA KELAS 5B SDN 12 PEMECUTAN

TAHUN PELAJARAN 2020/2021

 

I Made Mudiartana

CGP Angkatan 1 Kota Denpasar

 

1.        Latar Belakang

Negara maju adalah negara yang menempatkan pendidikannya pada prioritas utama. Pendidikan memiliki kontribusi yang sangat besar dalam peningkatan kualitas bangsa. Pendidikan adalah sumber dari segala sumber kemajuan suatu bangsa, karena melalui pendidikan kualitas sumber daya manusia bangsa tersebut dapat ditingkatkan. Sumber daya manusia merupakan aset utama dalam membangun suatu bangsa, tidak terkecuali bagi bangsa Indonesia.

Untuk mengoptimalkan kontribusi pendidikan terhadap peningkatan kualitas bangsa Indonesia, semua pihak mempunyai kontribusi yang penting, apakah pengelola pendidikan itu sendiri, termasuk swasta, pemerintah, atau masyarakat pada umumnya. Pemerintah di sisi lain harus pula mempunyai komitmen kesungguhan untuk berpihak pada kemajuan pendidikan, demikian pula dengan masyarakat dalam hal ini orang tua siswa. Mereka harus menyadari akan pentingnya pendidikan bagi masa depan putra-putri bangsa yang tercinta ini. Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang sangat bernilai bagi peningkatan kualitas bangsa Indonesia.

Begitupun di masa pandemi covid-19 yang melanda Indonesia beberapa bulan terakhir. Pendidikan harus tetap berjalan dan bergerak demi masa depan bangsa. Kerjasama antar berbagai pihak sangat diperlukan, dimana salah satunya adalah orang tua siswa. Namun, dimasa pandemi covid-19 ini timbul kekhawatiran terhadap efektivitas kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah (BDR). Berkurangnya kolaborasi antara guru dan orang tua sebagai garda terdepan juga menambah kekhawatiran di beberapa kalangan. Hal ini sangat berdasar yakni karena adanya batas dan jarak antara guru dan orang tua siswa selama pandemi. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk mendorong peningkatan kolaborasi antara guru dan orang tua siswa untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran jarak jauh. Upaya tersebut dapat diwujudkan dengan membangun kolaborasi positif antara guru dan orang tua siswa.

2.        Deskripsi Aksi Nyata

Covid-19 yang terjadi dalam beberapa bulan belakangan ini tak pelak mempengruhi dunia pendidikan. Guru dan siswa harus melaksanakan pembelajaran dalam jaringan atau via online. Hal tersebut juga akan berpengaruh besar terhadap efektivitas pembelajaran yang dilakukan. Agar tujuan pendidikan tetap tercapai dengan baik dimasa pandemi ini maka dibutuhkan kolaborasi antara berbagai pihak. Salah satu bentuk kolaborasi tersebut adalah kerjasama antara guru dan orang tua siswa. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memberikan solusi dalam setiap kegiatan pembelajaran daring yang dilakukan. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan tindakan untuk aksi nyata. Tindakan yang akan dilakukan untuk mewujudkan kolaborasi yang efektif antara guru dan orang tua siswa di masa pandemi adalah sebagai berikut :

1)        Berkoordinasi dengan kepala sekolah mengenal kolaborasi yang akan dilakukan bersama orang tua siswa

2)        Membuat kesepakatan bersama antara guru dan orang tua siswa berkaitan dengan kegiatan siswa yaitu Belajar Dari Rumah (BDR)

3)        Menjalin komunikasi yang efektif dengan orang tua agar apa yang menjadi tujuan dapat terlaksana dengan baik. Komunikasi efektif yang dimaksud adalah sebagai berikut :

a)        Mengucapkan salam sebelum memberikan informasi terkait BDR putra-putrinya

b)        Memberikan emoji tersenyum, senang dan semangat dalam setiap penulisan pesan di whatsapp grup

c)        Selalu membalas pesan dan pertanyaan orang tua dengan penuh tanggung jawab

d)       Selalu memohon maaf apabila terlambat menjawab pesan atau menanggapi pesan dari orang tua

e)        Menggunakan bahasa yang santun sehingga tidak menyinggung perasaan anak dan pihak orang tua siswa

4)        Selalu menghubungi orang tua siswa apabila terdapat anak-anak yang melalaikan tugas BDR. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui penyebab hal tersebut bisa terjadi dan sebagai bentuk dedikasi sebagai seorang guru demi tercapainya tujuan pendidikan.

 

3.        Hasil dari Aksi Nyata

Kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh atau BDR dilaksanakan sesuai dengan rancangan aksi nyata yang telah dibuat. Pada awalnya memang menemui hambatan. Namun, setelah dilakukan koordinasi dengan baik bersama orang tua, anak-anak mulai didampingi belajarnya oleh orang tua masing-masing. Dengan adanya pendampingan tersebut, anak-anak mulai menunjukkan peningkatan dalam belajar dan pengerjaan tugas selama BDR. Anak-anak mulai mengirimkan tugas-tugas BDR secara konsisten. Hal tersebut dibuktikan dengan keaktifan anak-anak menyelesaikan penugasan di Google Classroom.

 

4.        Pembelajaran yang Didapat

a)      Kegagalan

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di masa pandemi ini merupakan tantangan bagi sebagian guru. Banyak sekali pengalaman dan pembelajaran yang didapatkan. Salah satu pembelajaran yang diperoleh selama melakukan aksi nyata kolaborasi bersama orang tua ini adalah sulitnya mendapat akses komunikasi beberapa orang tua karena kesibukannya terlalu padat. Hal ini perlu mendapat permakluman karena rata-rata ekonomi orang tua siswa di SD Negeri 12 Pemecutan berada pada jenjang ekonomi menengah ke bawah. Orang tua harus berulang kali dihubungi, baik melalui telpon, SMS, WA maupun sosial media yang lainnya.

b)     Keberhasilan

Bentuk keberhasilan dari aksi nyata berkolaborasi dengan orang tua ini sungguh luar biasa. Sebelum pandemi, peran orang tua dalam pembelajaran mungkin sangat kecil karena pembelajaran lebih banyak dilakukan di sekolah dengan tatap muka. Namun, dengan aksi nyata ini, orang tua mengambil sebagian peran guru. Orang tua seolah-olah kembali menemukan kemampuan alamiahnya yaitu membimbing dan mendampingi anaknya dalam belajar. Anak-anak mulai antusias dalam belajar karena kontrol orang tua. Hal ini akan berdampak pada konsistensi pengiriman tugas selama PJJ.

 

5.        Rencana Perbaikan

Seperti yang diuraikan di atas, kolaborasi antara guru dan orang tua memiliki nilai yang sangat penting dalam peningkatan efektivitas pembelajaran selama PJJ. Namun karena adanya beberapa kendala dalam pelaksanaan aksi nyata ini, maka diperlukan rencana perbaikan. Rencana perbaikannya adalah mengunjungi orang tua siswa yang sulit dihubungi melalui telpon atau sosial media. Diharapkan dengan cara tersebut kolaborasi dapat tercipta demi peningkatan hasil belajar anak-anak.


6.        Dokumentasi Kegiatan




Jika Sobat menyukai Artikel di blog ini, Silahkan masukan alamat email sobat pada kotak dibawah untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Sobat akan mendapat kiriman artikel terbaru dari Media Pendidik dan Pendidikan